Joko Widodo Merangkul Lawan Politiknya

Menarik sekali salah satu pernyataan seorang rekan – rekan sampaikan dalam satu artikel bahwa, Sejak awal menjabat, tak pernah sekalipun Joko Widodo atau Jokowi mau mendekat, merangkul dan mengajak kerja sama lawan-lawan politiknya. Misalnya saja itu dilakukan, hanya pada personal tertentu, dengan maksud tertentu pula. Judul artikel tersebut pun menurut hemat saya- terlalu bombastis. Bahkan, saya khawatir, judul semacam itu rawan dilaporkan ke aparat penegak hukum. Tentu saya sebagai sesama rekan narablog tidak mengharapkan hal semacam ini terjadi terjerat hukum gegara nulis di Forum tersebut. Kasihan juga pada diri sendiri dan juga keluarga jika sampai hal ini terjadi. Sekali lagi jangan sampai terjadi.

Maksud baik menyampaikan kritik perlu disusun dengan tulisan yang baik agar tidak disalahartikan. Dengan segala hormat saya pada rekan penulis tersebut, perkenankan saya menulis tanggapan yang mudah-mudahan berkenan di hati semua saudara sebangsa dan setanah air. Dalam debat perdana, sebelum dipersilakan oleh pembawa acara, Pak Jokowi sudah lebih dahulu mendekat dan berjabat tangan dengan Pak Prabowo. Memang benar, dalam sesi verbal debat, tidak ada pujian atau apresiasi verbal dari kedua capres terhadap lawan debatnya. Akan tetapi, seperti dikemukakan Erick Thohir, “Itu merupakan bentuk pujian simbolik yang harus disampaikan (Jokowi), memberikan penghormatan kepada teman kompetitor dan senior beliau”. Masih kita ingat pula, gelaran Asian Games 2018. Yang dimana momen mengharukan terjadi saat Hanifan, atlet peraih medali emas pada partai final nomor kelas C Putra 55 kg sampai 60 kg, memeluk Presiden Jokowi dan Pak Prabowo yang hadir sebagai Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat). Kehadiran Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada gelaran final pencak silat itu sendiri membuktikan, keduanya bersahabat baik dan saling menghargai.

Bedakan gimmick politik dan relasi personal

Sepertinya banyak orang lupa untuk membedakan dua hal yang berbeda. Salah satunya gimmick politik dan relasi personal. Tengok ucapan “semoga lekas” sembuh yang Joko Widodo dan juga Iriana kirimkan bagi Ibu Ani Yudhoyono yang dirawat di Singapura. Kita tentu tahu, dalam percaturan dunia politik, Pak Jokowi tidak “serumah” dengan Pak SBY. Akan tetapi, relasi personal antara keduanya Pak Jokowi dan Pak SBY terjalin dengan baik. Saat Ibu Ani sakit, Pak Jokowi dan Bu Iriana termasuk pribadi-pribadi pertama yang mengirimkan bunga dan juga ucapan “semoga lekas sembuh”. Saya begitu yakin, Pak Jokowi dan Pak Prabowo bersahabat baik dalam tataran personal. Jika saja tidak tidak, tidak mungkin Pak Jokowi buru-buru menyalami Pak Prabowo setelah sesi debat verbal pertama berakhir.

Seandainya saya jadi Pak Joko Widodo, saya akan melakukan hal yang sama. Perlu diketahui ya, jelek-jelek begini, saya juga pernah ikut lomba debat sewaktu SMA dulu. Sudah wajar jika dalam debat, kita saling serang untuk menang. Ya itulah kodrat debat: menjatuhkan argumen lawan dan menunjukkan keunggulan argumen kita. Namun, sebelum dan setelah debat, kita semua sahabat. Maka, wajar sekali, setelah debat panas, pendebat-pendebat yang bersahabat segera “berdamai” dengan berjabat tangan. Itu yang dilakukan Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo.

Kita yang terlalu terbawa tensi politik

Justru kita, warga biasa, yang terlalu terbawa tensi politik. Seolah kita dalam peperangan. Mirisnya lagi, dalam peperangan yang melibatkan Tuhan. Sampai Tuhan “diancam” akan ditinggalkan bila doa tidak dikabulkan. Sampai ada tokoh yang mengatakan ada partai Tuhan, padahal setahu saya, Tuhan tak pernah buat partai. Tensi Pilpres tahun ini makin panas di medsos, di mana akun-akun (anonim) saling serang dengan sumpah-serapah dan hoaks disemburkan tanpa kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *